Air Mata Bahagia, Air Mata Bangga Bangsa Indonesia

Air mata bahagia kita semua tumpah saat lagu Indonesia Raya berkumandang di arena Olimpiade. Dimulai di Barcelona 1992, hingga di Tokyo 2020. Adalah Susi Susanti, Alan Budikusuma, Rexy Mainaki/Ricky Subagia, Tony Gunawan/Candra Wijaya, Taufik Hidayat, Tontowi Ahmad/Liliyani Natsir, dan Greysia Polii/Apriyani Rahayu yang memicu keharuan itu. Mereka menjadi penyumbang medali emas Olimpiade bagi Indonesia. Semua dari cabang olahraga bulu tangkis.

Ketika Susi Susanti jadi orang Indonesia pertama yang meraih medali emas Olimpiade, publik menganggap hidupnya memang seperti sudah ditakdirkan meraih kegemilangan. Hampir semua gelar penting sudah diraihnya. Sesungguhnya tidak demikian. Di balik karier bulu tangkisnya yang begitu mentereng, ada tekad dan kerja keras. Susi memutuskan meninggalkan keluarga pada usia 14 tahun untuk menapaki karier sebagai pemain bulu tangkis profesional. Dia memutuskan masuk ke Pelatnas Pratama dan tak pernah menoleh kembali ke kehidupan "normal" seperti remaja sesusia dia pada umumnya.

Agak berbeda dari Susi, kisah Greysia Polii rasanya malah hampir berkebalikan. Karier bulu tangkisnya penuh tikungan tajam dan jalan terjal. Sama sekali tidak mulus. Saking terjalnya, dia sempat tersungkur dalam skandal kartu hitam Olimpiade London 2012. Namun berkat komitmennya yang tak tergoyahkan, Greysia berhasil mengembalikan keharuman namanya dengan meraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020 bersama Apriyani Rahayu. Kalau ada kesamaan di dalam kisah Susi dan Greysia, itu adalah soal tekad dan kerja keras. Mereka sama-sama telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk bulu tangkis. Untuk bangsa Indonesia.

Sebagai bagian bangsa ini, Anda tentu bangga atas pencapaian mereka. Bersyukur ada atlet yang demikian hebat di bidangnya hingga mampu mengharumkan nama Indonesia di tingkat dunia. Dengan perjuangannya masing-masing, mereka telah mencapai status mulia sebagai pahlawan olahraga. Untuk merayakan pencapaian spektakuler mereka di cabang olahraga bulu tangkis, Harian Kompas merilis merchandise khusus yang tidak tersedia di outlet mana pun di dunia: t-shirt dengan desain berupa halaman depan koran Kompas yang memuat pemberitaan saat mereka jadi juara. Desain ini diambil langsung dari arsip pemberitaan Harian Kompas yang merentang panjang sejak 28 Juni 1965 hingga hari ini. Tidak hanya juara Olimpiade, melainkan juga juara Piala Sudirman, Thomas, Uber, dan Asian Games. T-shirt ini dibuat dengan bahan Cotton Combed 30S dan teknik sablon DTG. Harganya Rp199.000 per helai.

Pada akhirnya, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya.

Pilih kaus pahlawan bulu tangkis favorit Anda di sini